Pertanian Sehat Indonesia | Berkomitmen Membangun Pertanian Indonesia
Rubrik : Teknologi
Pandangan Islam Terhadap Perkembangan Bioteknologi
2010-09-20 16:14:25 - by : admin
P Sam

Pengantar

Perkembangan  ilmu pengetahuan dan teknologi terutama di bidang bioteknologi dewasa ini harus  diakui telah terjadi dengan begitu luar biasa.   Sebagai bentuk aplikasi dari biologi, bioteknologi ternyata telah secara  mengejutkan memperlihatkan potensinya yang dahsyat sebagai berkah ilmu  pengetahuan sekaligus ancaman penyalahgunaan yang berkaitan dengan pelanggaran  hukum-hukum Allah dan nilai-nilai kesucian martabat manusia sendiri.

Apabila kita cermati,  sebenarnya apa yang dikerjakan para ilmuwan itu merupakan upaya menyingkap  rahasia hukum-hukum Allah (sunnatulloh)  yang telah ada bersamaan dengan penciptaan alam semesta ini.  Di dalamnya sama sekali tidak ada unsur  penciptaan, karena tidak mengadakan sesuatu dari ketidakadaanya, tetapi hanya  menyingkap rahasia yang sudah ada.    Maka, dengan semakin majunya sain dan teknologi sebenarnya akan semakin  menambah pembendaharaan tanda-tanda kebesaran Allah Sang Pencipta, kesempurnaan  kekuasaan-Nya dan kerapihan hikmah-Nya.   Semua ini seharusnya akan semakin memantapkan keimanan dan ketaqwaan  kepada Nya, bukan malah sebaliknya. Firman Allah SWT:
             
  ”....Sesungguhnya yang takut  kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha  Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Q.S. Faathir :28).

”Sesungguhnya dalam  penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat  tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal . (yaitu) orang-orang yang mengingat  Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka  memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan  kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka  peliharalah kami dari siksa neraka”. (Q.S. Ali Imron : 190-191)
    ”..Dan  tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan hanya sedikit ”(Q.S. Al-Israa’ : 85)

  Allah SWT telah  mengutus Nabi Muhammad SAW kepada seluruh umat manusia dengan membawa risalah  islam yang sempurna dan mampu menjawab setiap masalah yang muncul dalam  kehidupan manusia hingga hari qiyamat. Sebagaimana firman-Nya:
  “Pada hari ini telah Aku  sempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Aku cukupkan atas kalian  nikmat-Ku dan telah Aku ridloi islam sebagai agama bagi kalian..” (QS. Al-Maidah: 3).
  Dan firman-Nya :

” Dan telah kami turunkan  atasmu Al-Qur’an yang menjelaskan segala sesuatu” (QS. An-Nahl : 89)
  Allah pun telah mewajibkan setiap  muslim untuk menyesuaikan seluruh  aktivitasnya dengan perintah dan larangan-Nya seperti yang dibawa oleh  Rasulullah SAW.  Firman Allah SWT:

“Dan apa saja yang  diperintahkan oleh Rasul kepada kalian maka kerjakanlah, dan apa saja yang  dilarang oleh Rasul kepada kalian, maka tinggalkanlah”. (QS. Al-Hasyr:7)
  Oleh karena itu seorang muslim yang taat akan menilai  sesuatu itu baik jika sesuatu tersebut baik menurut Islam dan sesuatu akan  dinilai jelek jika menurut Islam jelek, sebagaimana kaidah syara’ :
  Al-hasanu maa hasanahu  as-syar’u wal qobiihu maa qobiihahu as-syar’u.
  “Baik itu adalah apa-apa yang baik menurut syara’ dan buruk itu adalah  apa-apa yang buruk menurut syara’”

Penemuan-penemuan ilmiah meskipun merupakan hasil  eksperimen ilmiah yang bersifat universal tidak didasarkan pada pandangan hidup  (aqidah) tertentu, tetapi penggunaan dan pengambilannya  tetap akan didasarkan pada pandangan hidup  tertentu.   Para ilmuwan sekuler yang  berazaskan manfaat semata tidak akan memperhitungkan aspek apapun kecuali bahwa  penemuan itu akan mendatangkan nilai materi yaitu kemanfaatan.   Mereka tidak akan mempertimbangkan lagi  apakah penemuan itu sesuai atau tidak dengan nilai-nilai rohani, akhlaq, dan  kemanusiaan, sebab nilai-nilai tersebut memang bukan standar perbuatan  mereka.  Sebaliknya ilmuwan muslim yang  menjadikan standar hidupnya halal dan haram, hanya akan melakukan penelitian  pada apa-apa yang dihalalkan oleh Allah SWT, dan tidak akan melakukan  penelitian pada apa-apa yang telah Alloh haramkan meskipun ada unsur manfaat,  karena justru manfaat itu ada pada pelaksanaan hukum syara’, sesuai dengan  kaidah syara’ :
  Haitsuma yakuunu assyar’u  takuunul mashlahah
“Dimana ada hukum syara’ disana ada maslahat (manfaat)”.

Hukum syara’ terhadap aplikasi bioteknologi pada  tanaman  dan hewan

Aplikasi  bioteknologi yang diterapkan pada tanaman dan hewan dengan tujuan untuk  meningkatkan kuantitas, kualitas, produktifitasnya atau usaha untuk mencari  obat alami bagi banyak penyakit manusia untuk menggantikan obat-obat kimia yang  sering menimbulkan efek samping pada kesehatan, hukumnya boleh (ja’iz) selama tidak ada dalil yang mengharamkannya,  sesuai dengan kaidah:
  Al-ashlu  fil asyyaai al-ibaahah maa lam yarid daliilut tahriim
“Hukum asal dari sesuatu itu halal (mubah) sebelum ada dalil yang  mengharamkannya“
Jika pengembangan teknologi tersebut dalam upaya mencari obat-obatan untuk  mengobati penyakit manusia hukumnya sunnah,  mengikuti hukum berobat, Rosulullah SAW bersabda :
”..Sesungguhnya  Allah Azza wa Jalla setiap kali menciptakan penyakit, Dia menciptakan pula  obatnya. Maka berobatlah kalian!”.
Bahkan pada kondisi umat  manusia sangat memerlukan teknologi tersebut yang tidak bisa ditangani secara  konvensional dan menyangkut kelangsungan hidup manusia hukumnya dapat menjadi fardlu kifayah.

Sampai saat  ini telah dikembangkan beberapa hasil rekayasa genetik pada tanaman  dalam rangka mengupayakan adanya kepastian  pasokan pangan yang cukup untuk mengantisipasi populasi  umat manusia yang pada awal milenium ketiga ini berkisar 6 milyar jiwa dan  diprediksikan berlipat dua dalam 50 tahun mendatang, diantaranya:

     
  1. Tanaman yang  resisten terhadap serangan hama.
Tanaman yang peka terhadap hama dan  penyakit akan mengalami kehilangan hasil sangat besar dan menjadi salah satu  pemicu bencana kelaparan pada beberapa negara berkembang. Ditemukannya teknik  rekayasa genetik seperti jagung B.t. dapat mengurangi secara signifikan  penggunaan pestisida kimiawi sekaligus mengurangi biaya produksi budidayanya.
  1. Tanaman yang toleran terhadap herbisida.
Budidaya tanaman yang tahan herbisida  akan mengurangi biaya pengolahan tanah. Tanaman penganggu (gulma) dimusnahkan  cukup dengan herbisida tanpa kekhawatiran mematikan tanaman yang dibudidayakan.
  1. Tanaman yang  resisten terhadap penyakit akibat jamur, bakteri dan virus patogen.

Seperti juga tanaman yang resisten  terhadap hama, diharapkan ditemukan tanaman yang resisten terhadap penyakit  yang ditimbulkan oleh jamur, bakteri dan virus patogen.

  1. Bibit tanaman yang tahan terhadap suhu beku.

Bibit tanaman akan mati jika disimpan  pada suhu beku. Dengan gen antibeku tanaman akan tahan terhadap suhu penyimpanan.  Gen ini telah diisolasi dari ikan air dingin yang hidup dekat kutub utara dan  diintroduksikan ke bibit tembakau dan kentang.

     
  1. Tanaman yang tahan kekeringan dan tahan kadar garam tinggi.

Tanaman jenis ini berguna  sekali untuk negara-negara yang tidak dapat lagi melakukan ekstensifikasi  lahan. Tanaman ini dapat ditanam pada lahan-lahan yang secara konvensional  tidak dapat digunakan untuk budidaya, seperti lahan kering atau tanah yang  berkadar garam tinggi.

  1. Tanaman pangan  yang bergizi tinggi (padi, jagung, gandum).

Tanaman pangan bergizi tinggi berguna  untuk mengatasi malnutrisi pada negara-negara berkembang. Tujuan pengembangan  tanaman GM seperti ini adalah memperoleh strain tanaman pangan yang selain  mengandung nutrien konvensional juga mengandung vitamin dan mineral yang  lengkap. Di Indonesia barangkali yang layak dikembangkan adalah padi yang kaya  vitamin A, yodium dan zat besi, karena ketiga zat tersebut merupakan tiga besar  zat malnutrisi di Indonesia.

  1. Tanaman yang  "disisipi" vaksin.

Vaksin umumnya membutuhkan kondisi  penyimpanan yang khusus agar tidak mengalami kerusakan. Untuk negara-negara  berkembang kondisi penyimpanan khusus tadi sangatlah memberatkan, maka akan  sangat terbantu jika ditemukan teknik penyisipan vaksin (atau obat) ke dalam  buah-buahan tertentu. Yang sedang dikembangkan adalah penyisipan obat dan  vaksin pada tomat dan kentang.

  1. Tanaman-tanaman pembersih  lingkungan.

Tanaman jenis ini akan sangat membantu  membersihkan lingkungan tanah perairan yang tercemar berat, khususnya oleh  logam-logam berat. Tanaman ini dapat menyerap logam berat sebagai sumber zat  anorganiknya tanpa mengalami gangguan fisiologis.

Berbagai aplikasi bioteknologi pada tanaman dan  hewan disamping mendatangkan manfaat yang besar, diduga membawa pula  konsekuensi yang merugikan/membahayakan. Bahaya atau kerugian yang terjadi  dapat berupa ancaman terhadap eksistensi tanaman atau hewan tersebut,  lingkungan meliputi manusia, alam dan ekosistem hewani di sekitarnya. Sebagai  contoh HEMATECH LLC, perusahaan bioteknologi dari Sioux Falls, South Dakota,  Iowa, Amerika Serikat, berpatungan dengan Kirin Brewery dari Jepang berupaya  memproduksi antibodi manusia lewat sapi. Mereka mengkloning sapi dengan cara  menyintesis rangkaian gen yang bisa memproduksi antibodi manusia di  laboratorium dan nyambungkan ke sel kulit sapi. Sel kulit sapi itu kemudian  digabungkan ke sel telur sapi yang telah diambil intinya. Hasil penggabungan  dirangsang untuk tumbuh sebagai embrio, lantas diimplantasikan ke rahim induk  sapi. Diharapkan, gen manusia akan aktif di tubuh sapi kloning dan memproduksi  antibodi yang diperlukan saat sapi diinfeksi dengan sejumlah virus dan bakteri.  Kenyataannya, produksi antibodi sangat minim karena tidak banyak gen manusia  yang aktif dalam sel sapi. Upaya Hematech dianggap sebagai suatu terobosan.  Tahap selanjutnya, mereka mengupayakan agar gen manusia menjadi aktif dengan  menekan sistem kekebalan tubuh sapi. Upaya ini perlu waktu tiga sampai empat tahun sebelum dilakukan uji klinis.  Meski bertujuan mulia, upaya itu tak lepas dari tantangan. Utamanya dari para  aktivis penyayang binatang. Menurut mereka, kloning tidak berperikemanusiaan.  Kegagalan kloning pada binatang cukup tinggi. Dari 672 embrio yang dibuat,  hanya enam anak sapi yang lahir hidup. Dari jumlah itupun, dua ekor mati dalam  tempo 48 jam setelah lahir. Kekhawatiran lainnya adalah, bisa saja antibodi  yang diproduksi lewat sapi tercemar penyakit sapi gila. Selain itu, ada juga  masalah etika yaitu adanya pencampuran gen manusia ke sapi dinilai mengaburkan  batasan antar spesies makhluk hidup, khususnya antara manusia dengan binatang.
  Oleh karena alasan adanya bahaya negatif seperti  tersebut, pengembangan bioteknologi harus selalu diawasi dan diuji secara  seksama sebelum dilepas ke masyarakat luas.   Jika terbukti akan mendatangkan bahaya kepada manusia atau lingkungan  maka hukumnya menjadi haram berdasarkan kaidah ushul:
              Al-ashlu fil mudloori at-tahriim
  “Hukum asal yang membahayakan adalah haram“
  Demikian pula pengembangan bioteknologi pada tanaman  dan hewan hukumnya haram jika materi  yang digunakan adalah materi yang diharamkan oleh Allah, seperti babi dan anjing. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa Nabi SAW bersabda:

”Allah telah melaknat orang  Yahudi, telah diharamkan kepada mereka lemak (syuhum), tetapi mereka menjualnya  dan memakan hasil penjualannya. Sesungguhnya Allah jika telah mengharamkan atas  suatu kaum untuk memakan sesuatu maka diharamkan pula bagi mereka harganya”.

Hukum syara’ pada proses dan produk bioteknologi pada  manusia

Kloning pada manusia dilihat dari bentuknya ada  dua, yaitu : 1) Kloning embrio (perbanyakan embrio identik), dan 2) Kloning  manusia (dalam pengertian kloning yang berasal dari sel somatik manusia.  Hukum syara’ dari kedua jenis kloning  tersebut adalah sebagai beikut:

  1. Kloning embrio

Kloning embrio adalah proses penggandaan pada fase  sel zygot (sel telur yang telah dibuahi) untuk mendapatkan anak kembar  identik.   Dr. Martin Nijs, ketua team  peneliti kedokteran Belgia, tanggal 9 Maret 1997 telah mengumumkan bahwa  teamnya telah mengklon anak kembar pada empat tahun sebelumya dan klon tersebut  tumbuh baik sampai saat dilaporkan.
Kloning embrio ini dibolehkan oleh syara’, apabila sel sperma yang membuahi berasal  dari suami yang sah dan masih hidup, dan sel telur yang dibuahi juga berasal  dari isteri yang sah, dan klon yang dihasilkan harus ditanam kembali untuk  ditumbuhkan ke dalam rahim isteri pemilik sel telur tersebut.  Tetapi jika klon embrio yang dihasilkan  tersebut ditanamkan pada rahim wanita lain (ibu pengganti), atau sperma dan sel  telurnya bukan dari pasangan suami isteri yang sah, atau klon embrio di  tanamkan pada rahim isteri setelah suaminya meninggal, maka semuanya itu  hukumnya haram, karena telah  mencampur adukan dan menghilangkan nasab, dan gugurnya pernikahan atas orang  yang sudah meninggal. Diriwayatkan dari Abu Hurairoh bahwa dia telah mendengar  Rasululloh SAW bersabda ketika turun ayat li’an:

“Siapa  saja perempuan yang memasukkan nasab (seseorang) kepada suatu kaum yang bukan  dari mereka, maka dia tidak akan mendapatkan apa pun dari Alloh dan Alloh tidak  akan pernah memasukkannya ke dalam surga.   Dan siapa saja laki-laki yang mengingkari anaknya padahal dia melihat  (kemiripannya), maka Alloh akan tertutup darinya dan Alloh akan membeberkan perbuatannya  itu dihadapan orang-orang terdahulu dan kemudian (pada hari kiamat nanti).” (HR. Ad-Darimi).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., dia mengatakan  bahwa Rosululloh SAW bersabda :

 “Siapa saja yang menghubungkan nasab kepada  orang yang bukan ayahnya, atau seorang budak bertuan kepada selain tuannya,  maka dia akan mendapat laknat dari Alloh, para malaikat dan seluruh umat  manusia” (HR. Ibnu  Majah).

  1. Kloning sel somatik

Kloning manusia adalah upaya membuat keturunan dengan  kode genetik yang sama dengan tetuanya.   Hal ini dilakukan dengan cara mengambil sel somatik dari tubuh tetua,  kemudian diambil inti selnya (nukleusnya), dan selanjutnya digabungkan pada sel  telur (ovum) wanita—yang telah dihilangkan intinya—dengan bantuan cairan kimia  dan kejutan listrik.  Setelah proses  penggabungan (fusi) ini terjadi, sel telur yang telah berisi inti sel tetua  ditransfer ke dalam rahim seorang perempuan agar sel tersebut membelah secara  mitosis, berkembang, berdiferensiasi dan berubah menjadi janin sempurna.  Janin tersebut akan dilahirkan secara alami  dan memiliki kode genetik yang sama persis dengan tetuanya. 
Kloning manusia apapun  tujuannya akan menjadi bencana dan sumber kerusakan bagi dunia.  Kloning manusia menurut hukum islam haram dilakukan, dan dalil-dalil  keharamannya menurut Abdul Qodim Zallum, adalah sebagai berikut:

  1. Anak-anak produk  kloning dihasilkan melalui cara yang tidak alami sesuai fitrah manusia.  Padahal Alloh telah menetapkan cara pembuahan  yang alami yaitu melalui pembuahan sel sperma suami pada sel telur istri yang  sah.   Alloh berfirman:

“dan bahwasanya  Dialah  yang menciptakan  berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dari air mani apabila dipancarkan  …(QS. An-Najm: 45).

“ Bukankah dia  dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu  menjadi segumpal darah, lalu Alloh menciptakannya, dan menyempurnakannya.” (QS. Al-Qiyamah: 37-38).

  1. Anak-anak produk  kloning dari tetua perempuan tidak akan mempunyai ayah.  Dan jika inti sel dari tetua perempuan  kemudian ditransfer ke dalam rahim perempuan lainnya juga tidak akan punya  ibu.  Ini merupakan tindakan  menyia-nyiakan manusia, sebab dalam kondisi seperti ini tidak terdapat ayah dan  ibu.  Hal ini bertentangan dengan firman Alloh  SWT:

Wahai manusia  sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang  perempuan.. (QS. Al-Hujurat: 13).

“ Panggillah mereka  (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka”…(QS. Al-Ahzab: 5).

  1. Kloning manusia  akan menghilangkan nasab (garis keturunan), padahal Islam telah mewajibkan  pemeliharaan nasab.  Kloning yang  bertujuan memproduksi manusia unggul dalam hal kecerdasan, kekuatan fisik,  kesehatan, kecantikan, dsb..jelas mengharuskan adanya seleksi terhadap  orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut, tanpa mempertimbangkan apakah  suami-istri atau bukan, sudah menikah atau belum.  Inti sel somatik yang akan diklon diambil  dari orang yang memiliki sifat-sifat yang diinginkan, dan sel telur akan  diambil dari perempuan yang terpilih, dan dilatekkan pada rahim perempuan yang  terpilih juga.  Semua ini jelas akan  mengakibatkan hilangnya nasab dan bercampur aduknya nasab.
  2. Memproduksi anak  melalui proses kloning akan mencegah pelaksanaan banyak sekali hukum  syara’, seperti hukum tentang perkawinan,  nasab, nafkah, waris, hak wan kewajiban antara bapak dan anak, perawatan anak,  hubungan kemahroman, hubungan ashobah, dll.
  3. Menjadikan manusia  sebagai bahan penelitian merupakan pelecehan terhadap nilai kemuliaan manusia.  Seperti telah diuraikan diatas teknologi kloning memiliki tingkat keberhasilan  sangat rendah, seperti percobaan pada sapi, dari 672 embrio yang dibuat hanya  empat anak sapi yang lahir hidup. Dapat dibayangkan ratusan, ribuan atau jutaan  embrio/janin atau bahkan sudah berupa bayi manusia dibuang sebagai sampah sisa  percobaan. Naudzubillahi min dzalik.

Daftar pustaka
  Abdullah, M.M.  1990.  Diraasat fi al-fikru al-islamy. Daarul  Bayariq.
  Bakry, N. F.A, Sukri dan M.T.A Auskary.   1996.  Bioteknologi dan al-Qur’an  referensi dakwah da’i modern. Gema Insani Press.  Jakarta.
  Badan Penelitian dan Pen gembangan Pertanian,  Departemen Pertanian. 1998 . Pedoman Pelaksanaan Pengujian Keamanan Hayati  Produk Bioteknologi Pertanian Hasil Rekayasa Genetik Seri Hewan.
  Hadipermono. S. 1995.  Bayi Tabung dan Rekayasa Genetika.  Wali Demak Press. Surabaya.
  Kompas. 29 Desember 2002.  Kelahiran manusia kloning diragukan.
  Suara Muhammadiyah No. 8 Th ke-82.  Implikasi  Rekayasa Genetik.
  Suara Muhammadiyah No. 16 Th. Ke-82.   1997.  Klonasi ditinjau dari  syari’ah Islam.
  VOANews.com. 22/01/2003. Kloning Manusia di Amerika  Serikat
  Widodo R. Memilih Antara Pangan Alamiah dengan Rekayasa  Genetik.Teknologi Pangan dan  Gizi Untag Surabaya.
  Zallum,  A.Q.  1997.  Hukmu asy-syar’i fi al-istinsakh, naqlul  a’dlaa’, al-ijhadl, athfaal anabib, ajhizatul in’asy ath-thibbiyah, al-hayah  wal maut.  Darul Ummah. Beirut, Libanon.

Pertanian Sehat Indonesia | Berkomitmen Membangun Pertanian Indonesia : http://www.pertaniansehat.or.id
Versi Online : http://www.pertaniansehat.or.id/?pilih=news&aksi=lihat&id=216